Kamis, 28 Desember 2017

Desentralisasi Menjadi Ladang Korupsi Kepala Desa

     Law-Justice.co - Indonesia pasca reformasi mengalami perubahan pesat, baik dibidang ekonomi, hukum, maupun keterbukaan politik. Dalam bidang hukum dan penegakkan regulasi, pada 2002 dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Selain untuk mengawal jalannya pembangunan dengan menyelamatkan uang negara dari penyelewengan, KPK juga menjadi pendekar hukum untuk mengawasi kepala-kepala daerah yang pada awal milenium menikmati kekuasaan luas akibat adanya otonomi daerah.
      Di tingkat paling bawah, dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, kepala desa diberi kewenangan mengatur wilayahnya dengan prinsip transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Melalui desentralisasi atau pengurangan kendali pusat, kepala daerah bersama jajarannya diberi kepercayaan besar untuk berinovasi dalam pembangunan. Ketika anggaran dan kekuasaan daerah diperbesar, disinilah celah penyelewengan mulai terbuka lebar.
    Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Pasal 1 Tentang Pemerintahan Daerah, desentralisasi adalah penyerahan urusan-urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang pada dasarnya menjadi wewenang dan tanggung jawab daerah sepenuhnya (kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, dan segi-segi pembiayaan). Menurut Rondinelli (1983), desentralisasi merupakan penyerahan perencanaan, pembuatan keputusan, ataupun kewenangan administratif dari pemerintah pusat kepada suatu organisasi wilayah, satuan administratif daerah, organisasi semi otonom, pemerintah daerah, organisasi nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat.
      Sedangkan menurut Bambang Yudhoyono, desentralisasi adalah pembagian kekuasaan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dari tingkat atas ke tingkat yang lebih rendah dalam hierarki teritorial. PBB pada tahun 1962 memberikan pengertian desentralisasi sebagai berikut; pertama, dekonsentrasi yang juga disebut dekonsentrasi birokrasi dan administrasi. Kedua, devolusi yang sering disebut desentralisasi demokrasi dan politik.
   Sejak era pemerintahan presiden Jokowi, ada semangat yang membuncah untuk memberdayakan desa. Desa tidak lagi dianggap beranda pinggiran dan dipandang sebelah mata. Dalam konsepsi terbaru, justru desalah yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk memerangi tingginya angka kemiskinan. Dari desalah pengangguran dan kemiskinan berasal, maka dari desalah pembangunan harus digalakkan. Pemerintah tidak ingin penduduk desa berbondong-bondong lari ke kota mencari penghidupan yang layak. Desa diharap menjadi aktor andalan dalam membangun basis perekonomian berbasis kerakyatan.
     Di sisi lain, penganggaran untuk desa diciderai perilaku korup dan nepotis yang dipraktikkan kepala desa. Lebih menakjubkan lagi, program yang baru berjalan tiga tahun ini telah mengantarkan ratusan kepala desa masuk penjara akibat menggelapkan uang masyarakat.
    Presiden Joko Widodo mengatakan, sejak 2015-2017 sudah lebih dari 900 kepala desa dipenjara karena korupsi, dikutip dari merdeka.com. Di Purworejo, ada 14 kepala desa, di Tuban empat kepala desa terjerat kasus korupsi. Tiga dari empat bupati di pulau Madura terjerat kasus korupsi.  Di Jawa Barat, publik dikejutkan dengan penangkapan Ojang Sohandi bekas Bupati Subang. Dilihat dari persebaran kasusnya, korupsi tidak hanya dilakukan di tingkat bawah (desa). Tapi kepala daerahnya pun memberikan contoh dalam mencuri uang rakyat. Desentralisasi yang digadang-gadang bakal menggenjot pembangunan, ternyata menjadi lahan subur bagi maraknya penggarongan uang masyarakat.
     Otonomi daerah yang menjadi gerbang pembuka kepercayaan pusat pada pemimpin di daerah, diciderai dengan tidak profesionalnya tata kelola daerah. Kasus nepotisme dan kolusi di Banten, Klaten, Rembang, Jombang, dan Buton, sekali lagi menunjukkan paradoks yang muncul dalam semangat desentralisasi. Pemimpin di daerah teriak-teriak meminta perluasan kekuasaan melalui otonomi daerah, tetapi ketika diberi kewenangan yang besar malah disalahgunakan. Kekuasaan yang dimiliki dianggap mutlak milik pribadi, oleh karenanya anggaran daerahpun digunakan seenaknya tanpa punya rasa bersalah telah merampok hak warganya.
      Di desa, secara umum tingkat pendidikan penduduknya rendah, akses informasi terbatas, kesadaran politik tidak ada dan tidak adanya aktivis yang mengajarkan hak-hak masyarakat, akhirnya kepala desa dengan gampangnya menggunakan anggaran desa untuk kepentingan pribadi.
    Pada pasal 29 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, kepala desa dapat diberhentikan bila kebijakannya merugikan kepentingan umum, keputusannya menguntungkan diri sendiri, korupsi (KKN), dan menjadi pengurus partai politik. Itu artinya undang-undang tidak main-main memberikan kepercayaan alokasi anggaran desa kepada kepala desa. Pemerintah pusat sadar kepala desa mempunyai peran sentral dalam memberantas kemiskinan dan pengangguran di desa.
    Seluruh belahan dunia dilanda tren media sosial. Perekonomian suatu negara bergeser pelan-pelan memasuki sistem digital. Tidak terkecuali masyarakat di daerah yang mau tidak mau harus mulai akrab dengan teknologi. Bila kepala desa dijabat generasi tua dan tidak melek tren sosial, meski dikucurkan anggaran sebanyak apapun tidak akan ada perubahan signifikan di desa. Disinilah perlunya golongan muda mengambil peran kepemimpinan di desa.
    Sudah menjadi kodrat sosiologis, kalau inovasi banyak lahir dari pemuda. Payahnya desa seringkali dikuasai orang-orang tua berpikiran kuno, kolot, tertutup, tidak transparan dan patriarkis. Sistem seperti ini membuat penyelewengan susah untuk dilacak. Secara kultur, feodalisme di desa tidak memungkinkan sikap kritis kaum muda berperan dalam pengawasan. Akhirnya harapan terakhir jatuh pada penegak hukum. Tetapi polisi pun seringkali baru muncul saat korupsi sudah berlangsung dan ketahuan.
     Lemahnya pencegahan dan pengawasan membuat praktik korupsi di desa aman-aman saja. Terlebih bila kepala desa mampu melakukan ‘’pendekatan’’ ke tokoh adat atau agama di desa, maka lengkap sudah persekongkolan elit desa mempergunakan anggaran yang seharusnya diperuntukkan untuk kepentingan masyarakat luas. Jika sudah begini, desentralisasi hanya topeng, isinya tidak lain dan tidak bukan adalah pesta poranya para koruptor di tingkat desa.

Catatan penulis: tulisan ini terbit di media independen berbasis investigasi hukum pertama di Indonesia LAW-JUSTICE.CO / https://law-justice.co/desentralisasi-menyuburkan-korupsi-di-tingkat-desa.html 

Lebih Bahaya LGBT atau Korupsi?

        Perdebatan panas mengenai amar putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender) sebagai pelaku tindak pidana, mewarnai akhir tahun 2017 ini.  Tidak sedikit yang menuding bahwa MK telah melegalkan praktik yang dipandang banyak orang sebagai perilaku menyimpang. Namun, benarkah MK merestui secara yuridis praktik LGBT? Seberapa mendesak pengaturan untuk para pelaku LGBT?
     Dalam doktrin hukum legisme, suatu perbuatan tidak bisa dijatuhi hukuman jika tidak ada aturan hukumnya. Dalam Hukum Pidana, Asas Legalitas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang berbunyi: “Suatu Perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada.” Pendapat yang menolak LGBT, mayoritas bukan berdasarkan aturan undang-undang negara, tapi merujuk pada kisah Luth dalam Alquran surat Al-a’raf 80-81.
      Umat Islam, tidak semuanya sepakat bulat menolak LGBT. Beberapa tokoh berpandangan progresif justru berpendapat sebaliknya. ‘’Dalam Alquran tidak ada satupun ayat yang secara eksplisit menolak lesbi, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Pun sebaliknya, tidak ada ayat yang secara terang benderang menerimanya. Karena itu setiap orang berhak menggali makna yang lebih relevan dan humanis tentang persoalan yang kerap menuai pro dan kontra ini’’, ujar Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal seperti dikutip dari islamlib.com.
        Negara Indonesia dalam konstitusinya menegaskan pada pasal 1 ayat 3, ‘’Negara Indonesia adalah negara hukum’’. Menurut  ahli hukum tata negara, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, ciri penting dari negara hukum diantaranya adalah supremasi hukum, persamaan dalam hukum, perlindungan hak asasi manusia, dan bersifat demokratis. Doktrin negara hukum melihat persoalan sosial dari kacamata peraturan perundang-undangan. Bila persoalan tersebut masih abu-abu atau secara empiris belum dapat diukur dimana tingkat kerugian atau kerusakannya, misalnya mengenai praktik LGBT, maka keputusan pengadilan harus tidak melanggar hak asasi tertuduh.
      Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Danardi Sosrosumihardjo berkata, mengukur seseorang disebut gangguan jiwa atau tidak, kita berpegangan pada buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III) terbitan Kementerian Kesehatan RI. PPDGJ III adalah terjemahan dari International Classification of Diseases edisi 10 (ICD-10), diterbitkan Badan Kesehatan Dunia WHO. Di buku tersebut masalah orientasi seksual diberi kode F66. Dikatakan bahwa gejala kejiwaan dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual, tidak dikategorikan sebagai gangguan jiwa.
       Selain berpedoman PPDGJ III, dokter kejiwaan Indonesia juga memiliki pegangan hukum lainnya yaitu undang-undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Dalam undang-undang ini ada kelompok orang dengan gangguan jiwa dan kelompok orang dengan masalah kejiwaan. LGBT masuk kategori masalah kejiwaan, kategori ini masuk ke dalam gejala normal yang dialami orang pada umumnya. Meskipun orang yang jiwanya bermasalah, dalam beberapa hal rentan terjerumus ke gangguan jiwa jika ditunjang faktor lain, misalnya stres parah, tertekan hebat, atau trauma mendalam.
        Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA) menyurati Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) guna memastikan pelaku LGBT tidak didiagnosis secara subjektif, mengingat keilmuan medis membuktikan LGBT bukanlah suatu penyakit. ‘’Ada komponen biologis yang kuat pada orientasi seksual dan itu bisa dipengaruhi interaksi genetik, hormon, dan faktor-faktor lingkungan. Singkatnya, tiada bukti saintifik bahwa orientasi seksual, apakah itu heteroseksual, homoseksual, atau lainnya, adalah suatu kehendak bebas,’ tulis Levin, Direktur Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat yang dikutip dari BBC Indonesia.
        Menilai LGBT tentu tidak bisa serta merta sembarangan menggunakan kacamata yang bukan bidangnya. Kalau LGBT merupakan persoalan psikis dan medis, maka para ahli dalam bidang tersebut harus dijadikan rujukan, karena mempunyai metode dan alat untuk mengukur/menilai. Artinya ukuran dari mereka menjadi parameter yang relevan dan objektif dalam menilai polemik LGBT. Doktrin negara hukum menilai persoalan dari ukuran dan standar, bukan hanya opini semata. Tuduhan bahwa LGBT sebagai penyakit, harus dibuktikan berdasarkan bidang keilmuannya.
       Berangkat dari kesadaran dan kerendahan hati tersebut, Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) pada Jumat (26/6/2015) waktu setempat, melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian. Mahkamah Konstitus RI memang tidak melangkah sejauh seperti hakim tinggi di AS,  tapi mereka sebagai pengawal hukum dan konstitusi sadar tidak ada cukup alasan untuk memasukkan perilaku LGBT sebagai tindakan kriminal. Secara struktur sosial, LGBT yang notabene pilihan individu sama sekali tidak berdampak apa-apa pada tatanan masyarakat. Justru yang merusak dan membahayakan peradaban adalah korupsi.
       Mahkamah Konstitusi sebagai penegak dan pengawal UUD 45’ wajib menjamin setiap orang yang ada di atas tanah air Indonesia agar diperlakukan sama dimata hukum. Negara hukum tidak boleh membiarkan anak bangsanya didiskriminasi atau diperlakukan tidak adil hanya karena pilihan individu yang tidak merugikan warga negara lain. Para penegak hukum harus berfokus pada perilaku yang sudah terbukti jelas tanpa ragu merugikan kepentingan orang banyak, seperti korupsi, perampokan, pembunuhan, penimbunan komoditas atau suap.
      Negara hukum harus berpedoman pada ukuran-ukuran nyata untuk dapat menegakkan legitimasinya dihadapan rakyat. Negara modern yang adil dan selaras dengan hak asasi manusia, harus dijalankan dengan prinsip rasional. Kesadaran ini membuat negara-negara maju dan kuat mengakui hak warga negaranya yang memilih orientasi seksual berbeda dibandingkan lainnya. Negara-negara tersebut ialah Turki, Amerika Serikat, Belanda, Kanada, Swedia, Inggris, Prancis, dan Denmark. Mereka menghargai pilihan individu selama pilihan tersebut tidak merugikan masyarakat dan negara.
       ‘’Negeri yang adil walau negeri kafir akan tegak dan jaya. Tapi negeri yang zalim walau muslim, akan runtuh", kata Ibnu Taimiyah, seorang pembaru dari Turki. Meski doktrin negara hukum Indonesia tidak mengenal istilah ‘’kafir’’, dalam diskursus sosial kita akrab dengan istilah tersebut. Bukan ranahnya negara dan konstitusi untuk berbicara pada wilayah justifikasi semacam itu. Terbukti, negara Eropa Barat, AS atau Kanada yang notabene melegalkan praktik LGBT, negaranya kuat, maju, makmur dan aman-aman saja. Itu artinya propaganda yang mengatakan LGBT membahayakan kehidupan sosial sama sekali tidak terbukti. Justru korupsi dan politik dibungkus sentiment SARA, yang terbukti merusak sendi-sendi kehidupan. Lihatlah faktanya di Suriah, Irak, Yaman, dan Libya.

catatan penulis: tulisan ini terbit di media independen berbasis investigasi hukum pertama di Indonesia LAW-JUSTICE.CO / https://law-justice.co/lgbt-atau-korupsi-.html 

Rabu, 22 November 2017

Kader HMI Menggugat: MUNAS KAHMI Untuk Siapa?

          Kota Medan menjadi saksi, pagelaran Musyawarah Nasional Korps Alumni HMI ke-10 untuk memilih Penguasa KAHMI periode 2017-2022. KAHMI sebagai wadah Alumni HMI (organisasi Mahasiswa Islam terbesar yang masih eksis hingga hari ini) disebutkan dalam Anggaran Rumah Tangga HMI pasal 51 memiliki hubungan historis dan aspiratif dengan HMI. Alumni HMI berkewajiban tetap menjaga nama baik HMI, meneruskan misi HMI di medan perjuangan yang lebih luas dan membantu HMI dalam merealisasikan misinya.

          Sebagai Instruktur di HMI, Kami ingin bertanya kepada Kakanda/Ayunda yang telah lulus berproses di HMI. KAHMI sanggup menyelenggarakan MUNAS di Hotel mewah, jamuan mahal, memiliki jaringan luas dan mampu mengkonsolidasikan dana milyaran rupiah untuk kontestasi politik, tapi kenapa sedikit sekali yang peduli pada perkaderan HMI? Bukankah KAHMI mutlak ada karena HMI? Bukankah tanpa HMI, kalian juga tidak akan bisa sebesar hari ini?

          Kami paham kalian pernah berproses di HMI, kalian lebih dulu mengenyam pendidikan di HMI, kalian yang meletakkan pondasi dasar organisasi, kalian dulu juga pejuang HMI seperti kami hari ini dan saat ini kami Penerus kalian di Himpunan ini. Kalian pulalah yang mengajari kami caranya berdebat, mengkritik, mendemo dan membuat proposal, tapi kenapa kalian lupa pada Himpunan sebagai rahim kalian?

          MUNAS KAHMI semewah itu menghabiskan berapa milyar? Mengapa kalian royal untuk perebutan kuasa, tapi pelit mendonasikan uang untuk keberlangsungan HMI? Mengapa bisa mencairkan ratusan juta rupiah untuk mendukung kandidat Ketua Umum pada saat Kongres, tapi kenapa untuk perkaderan tidak cair sepeserpun?

Pada Latihan Kader III BADKO HMI JABODETABEKA-BANTEN kemarin di Graha Insan Cita Depok, Kami sudah menyampaikan secara tegas dan lantang kepada Mulyadi P. Tamsir, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam dan Muhammad Arief Rosyid Hasan sebagai mantan Ketua Umum, mengapa Petinggi KAHMI bersemangat menggoda PB HMI untuk memilih calon Gubernur tertentu, tapi setelah tujuannya tercapai, HMI begitu saja dilupakan. Kenapa KAHMI memperalat HMI?

          Kami setuju keberadaan KAHMI untuk HMI, bukan KAHMI didirikan agar HMI tunduk pada Senior-senior mereka, lalu bisa digerakkan dan dihegemoni untuk menyukseskan ambisi politik petinggi KAHMI. HMI sebagai wadah mahasiswa, menjadi gawang pertahanan terakhir idealisme di Negeri ini. Bila KAHMI tidak dapat menahan nafsu politiknya, lalu menyetir PB HMI, apa jadinya nasib independensi mahasiswa jaman now ini?

          Ada ratusan anggota KAHMI yang menjadi pejabat di Negeri ini. Mulai dari Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, Kepala Dinas, Bupati hingga Guru Besar. Tapi kenapa Fungsionaris HMI masih saja kekurangan anggaran untuk operasional HMI? Memangnya Alumni yang sudah mapan, sukses dan besar itu pada kemana? Apa mereka sudah tidak peduli lagi pada rahimnya? Jangan mentang-mentang sudah sukses, lalu HMI dilupakan.

          Kami tidak sedang meminta anggota KAHMI yang duduk dipemerintahan mengalokasikan dana Pemerintah untuk HMI, tidak, kami menyinggung mereka sebagai Insan lulsan HMI. Kami mempertanyakan mereka sebagai individu, yang kami pikir mereka sudah mapan dan menjabat karena jasa massa HMI. Tapi kenapa mereka kurang peduli pada nasib perkaderan HMI justru ketika mereka sudah berhasil menjadi Pejabat?

          Kami tidak meminta KAHMI menggaji fungsionaris HMI, Kami hanya prihatin melihat paradoks nyata yang terjadi dilapangan. KAHMI dengan gayanya yang elit, mapan dan terkenal sebagai orang-orang penting di Pemerintahan, nyatanya tidak mampu menyisihkan uang untuk hal kecil tapi sangat menentukan keberlangsungan kaderisasi di HMI, misalnya Instruktur dari Jawa yang mendapat tugas mengelola training ke Kalimantan, tapi bingung caranya mendapat tiket darimana.

          Dari sekitar 214 Cabang HMI di seluruh Indonesia, hanya berapa Cabang yang memiliki Badan Pengelola Latihan? Padahal menurut Anggaran Rumah Tangga HMI, Cabang HMI dapat dinyatakan menjadi Cabang penuh kalau sudah memiliki 1 Lembaga Pengembangan Profesi yang masih aktif dan Badan Pengelola Latihan (BPL). Konsentrasi BPL hanya ada di Jawa, di Sumatera ada beberapa, diluar dua pulau ini, hanya ada satu dua Cabang yang memiliki BPL.

          Kita semua tahu Indonesia Negara yang sangat luas. Instruktur sebagai Pejuang perkaderan di HMI, bertugas bukan karena uang atau materi. Pengabdiannya sama sekali tidak menghasilkan profit dari Himpunan. Maka, bila KAHMI mau mikir, tanpa BPL perkaderan HMI mati. Tanpa BPL, akan sangat sulit bagi Cabang-cabang HMI untuk menciptakan regenerasi yang sehat dan terukur. Tanpa bantuan Alumni, mustahil terjadi pemerataan pendirian BPL sampai ke Cabang seluruh Indonesia.

MUNAS KAHMI Ke-10 di Medan yang diselenggarakan di hotel mewah Santika Dyandra patut dipertanyakan. Semangat KAHMI didirikan untuk mem-back up HMI dalam merealisasikan tujuan HMI sebagaimana yang tercantum dalam pasal IV Anggaran Dasar HMI, yaitu Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah SWT.

          Kalau keberadaan KAHMI hanya untuk KAHMI sendiri, lalu apa gunanya organisasi ini mencantumkan ejaan ‘’HMI’’ dibagian belakang namanya? Jangan sampai keberadaan KAHMI hanya untuk menghegemoni dan menjual nama HMI dihadapan Penguasa. HMI tetaplah organisasi Independen, KAHMI meski memiliki hubungan historis dan dipimpin bekas anggota HMI, haram hukumnya menyetir, mengintervensi, memperalat dan memanfaatkan HMI untuk ambisi politik mereka.

          Para petinggi KAHMI seringkali bertaruh ratusan juta rupiah untuk memenangkan kandidat Ketua PB HMI di Kongres, harusnya mereka juga royal dan loyal pada jalannya roda perkaderan didalam HMI. Dibalik kesuksesan HMI mendidik kadernya sehingga melek dan mahir berpolitik, ada Komisariat dan Cabang yang mati-matian merekrut, merawat, membina dan mengkader mulai dari bawah. Dibalik kebesaran nama HMI, ada Ketua Komisariat yang ‘’berdarah-darah’’ dalam merekrut kader.

          MUNAS KAHMI berbiaya milyaran, di Hotel mewah dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Jika MUNAS tersebut gagal menghasilkan Presidium yang peduli pada perkaderan HMI sebagai jantung keberlangsungan organisasi, maka semua menjadi omong kosong karena tidak berdampak apa-apa bagi HMI sebagai Ibu Kandung KAHMI. Kami tidak peduli siapa Pemenangnya, Kami hanya meminta Alumni memperhatikan nasib perkaderan di HMI.

          Sebagai kader HMI, Kami tidak ingin memiliki Alumni bermental pragmatis dan curang. Ke depan tidak boleh ada lagi Senior yang menggiring Pengurus HMI memilih kandidat tertentu pada pemilihan umum. Lalu ketika kandidat tersebut menang, dengan bangganya oknum-oknum KAHMI mengklaim dan menjual jasanya pada Penguasa demi keuntungan uang atau jabatan. Lalu HMI yang sudah diperalatnya, dilupakan dan ditinggalkan. Ini tidak fair, ini sikap yang curang.

Kami ingin melihat para Alumni, ikhlas membantu perkaderan HMI tanpa pamrih. Orang yang ber-HMI-nya tuntas, memberi berdasarkan niat yang ikhlas dan tulus. Orang yang memberi tapi merenggut kemerdekaan si Penerima, tidak ada bedanya dengan majikan membeli budak yang sudah kehilangan kemerdekaan diri. PB HMI bukan babu, dan KAHMI tidak akan pernah menjadi Juragan bagi HMI. Maka penyelenggaraan MUNAS tanpa ada komitmen membantu perjuangan HMI, hanyalah MUNAS yang omong kosong belaka.

          Kami mempunyai ide, Presidium KAHMI setiap tahun harus menganggarkan sekian persen dari perbendaharaannya untuk kepentingan kaderisasi di HMI. Dana yang masuk jangan dikelola oleh Bendahara Umum PB HMI, tapi biarkan dikelola oleh BPL PB HMI untuk urusan penting dan vital yang mendukung jalannya perkaderan di HMI. Kenapa harus dipegang BPL? Supaya dana tersebut seratus persen dialokasikan untuk kepentingan perkaderan, bukan hal lain.

          Kami tidak dapat membayangkan, apa jadinya keberlangsungan kaderisasi HMI tanpa BPL HMI. Tanpa BPL mungkin HMI masih bisa mendidik kader, tapi akan sangat sulit menyelenggarakan pelatihan yang terstandar, berkualitas, sistematis dan profesional. Cerita Instruktur yang mesti berhutang demi menjalankan tugas mengelola pelatihan, entah di luar Kota atau luar pulau, membuat kami merasa muak atas masih tidak adanya kepedulian serius dari KAHMI pada perkaderan HMI.

          Dalam kontestasi Konfercab atau Kongres, banyak Alumni HMI bermain, ikut menentukan jalannya konstelasi. Tidak jarang, gara-gara intervensi mereka membuat Cabang-cabang tenggelam dalam pusaran politik perebutan jabatan. Akhirnya waktu, alokasi tenaga dan konsolidasi para kader habis untuk urusan politik. Sedangkan perkaderan menjadi terlantar, kaderisasi terhambat, regenerasi menjadi mundur dan iklim perkembangan kajian intelektual menjadi hancur.

          Dengan realitas paradoks menyakitkan seperti ini, mengapa Kami Instruktur mesti diam saja? Apakah Kami yang setiap waktu berjuang mencoba memperbaiki perkaderan HMI harus diam ketika para Alumni merecoki internal HMI? Minimal, kalau Alumni tidak bisa membantu, jangan mencoba-coba merusak idealisme kader HMI. Syukur-syukur Petinggi KAHMI ditiap Kota berkenan membagi secuil kemapanannya untuk kepentingan perkaderan di HMI.

          Kami Instruktur HMI yang saat ini mengabdi di Badan Pengelola Latihan menggugat, kalau keberadaan KAHMI tidak membantu perjuangan HMI, khususnya dunia kaderisasi, kalau KAHMI didirikan hanya untuk mencatut nama HMI dan memperalatnya untuk memenuhi nafsu politik senior,  kalau KAHMI ada untuk ikut campur dan menyetir jalannya roda organisasi HMI, lalu setelah itu melupakan HMI sebagai rahimnya para Alumni, maka lebih baik KAHMI dibubarkan saja!.


(diposting oleh media Nasional QURETA.COM : https://www.qureta.com/post/kader-hmi-menggugat-munas-kahmi-untuk-siapa )
         

          

Sabtu, 28 Oktober 2017

Aku Berpihak Pada Kaum Jomblo

Ada orang, merasa sepi meski dia tengah berada dikeramaian. Ada orang, melakukan banyak hal tapi mudah sekali merasa bosan. Ada orang, gonta-ganti kekasih tapi tidak pernah merasa damai. Iya, seringkali yang terlihat indah dari jauh, ternyata pahit bagi Pelaku yang menjalaninya.
Aku tidak tahu apakah hidup ini bermakna atau tidak. Yang jelas, lari dari kenyataan hanya sikap kepengecutan yang tidak diambil seorang Pejuang. Suka atau tidak suka, hidup nyatanya menawarkan banyak sekali keinginan, tapi hanya 1% yang benar-benar dapat menjadi nyata. Sisanya, hanya kecewa dan airmata.
     Kalau ada orang yang sok paling tahu tentang kehidupan, entah memakai jubah spiritual, agama ataupun perdukunan, jangan percaya. Tiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Tiap orang tidak bisa menjadi Juru selamat bagi yang lain. Nasihat kehidupan sesungguhnya hanya omong kosong, karena jalan hidup tiap individu selalu berbeda. Jadi, tidak ada contoh jalan yang mesti ditiru.
Oranglain boleh memajang kebahagiaan bersama kekasihnya, tapi ingat, ada jutaan manusia di muka bumi yang tidak bahagia meski dia punya pasangan. Pernikahan yang katanya simbol kebahagiaan, nyatanya tidak selalu demikian. Coba Anda lihat di dunia nyata, tiap hari ada ribuan orang mengurus perceraian di Pengadilan Agama. Tiap hari ada jutaan orang menangis karena ulah kelakuan suami/istrinya. Itu artinya memiliki pasangan atau menikah sekalipun, bukan jaminan kebahagiaan akan datang.
Lalu dimana letak kebahagiaan? Kalau Anda mencari kebahagiaan, entah di Kota Paris atau ke ujung dunia manapun, tidak akan pernah ketemu. Karena bahagia bukan berlian yang ada di luar sana, yang mesti diburu, lalu dikantongi dan dibawa pulang. Kebahagiaan  letaknya ada dalam kesadaran. Kesadaran ada di dalam kinerja otak. Barangsiapa sadar orientasi hidupnya untuk apa (kemajuan), maka dia tidak akan pernah gundah gulana dan merana.
Banyak orang jenuh, bosan, murung tiba-tiba bergairah kembali saat mendengar iklan hiburan atau tempat wisata, seolah dengan berlibur dia bakal mendapatkan kebahagiaan. Apa benar seperti itu? Belum tentu! Jangan-jangan Anda hanya korban iklan dan dibodohi Pelaku usaha yang bergerak dalam bidang industri pariwisata.
Anda yang hari ini sendirian, entah yang bertahun-tahun tidak memiliki pacar, entah yang sebelumnya punya kekasih tapi direbut orang (atau ditinggal pergi), entah yang gagal menikah atau pengen banget dapat pasangan hidup tapi gak dapat-dapat, jangan bersedih hati. Banyak sekali kok orang yang sudah menikah tapi merasa ‘’seandainya belum menikah, pasti Aku masih bisa melakukan ini, itu. Masih bisa pergi kesana, kemari….’’. ‘’Andai Aku masih gadis, pasti karirku sudah setinggi…’’.
Hei jomblo, tenanglah. Jangan mau dihegemoni kelompok mainstream. Jomblo bahagia yang progresif, berkali-kali lipat jauh lebih baik ketimbang pacaran tapi tiap hari adu mulut. Jomblo yang sedang menyusun karya, derajatnya diangkat Tuhan daripada suami-istri yang tidak akur, bahkan makan bareng suap-suapan pun tidak pernah.
Aku tidak tahu hidup macam apa yang pantas dijalani. Tapi berdasarkan apa yang Aku renungi, hidup harusnya dialokasikan untuk mendukung kemajuan. Aku tidak tahu apa jadinya nasib rakyat Kuba hari ini, bila Che Guevara muda dulu  memilih menghabiskan waktunya untuk berpacaran dan bukannya berjuang melawan penindasan.
Aku tidak tahu wajah kemahasiswaan hari ini seperti apa bila dulu Kakanda Lafran Pane memilih jadi mahasiswa ‘’kupu-kupu’’, dan bukannya aktif berorganisasi di kampus. Aku pun seringkali menangis mendengar kesaksian Soekarno, ‘’ketika yang lain menghabiskan waktu bersama Kekasihnya, Aku tenggelam bersama Das Kapital (buku)…’’. Sungguh pernyataan haru dari seorang revolusioner sejati pada jamannya.
Pandangan yang membuat jomblo seolah terasa rendah, cupu dan tidak keren adalah karena kuatnya pengaruh kelompok mainstream. Hidup anak muda seolah harus dijalani secara hedon, pacaran, selfie bersama kekasih atau makan steak di restoran sambil suap-suapan. Tidak kawan, hidup tidak harus demikian. Orang yang membanggakan hidup bersama pasangan, hanyalah individu yang takut sepi dan tidak percaya diri menghadapi kenyataan sendirian.
Manusia seperti itu mirip bebek, selalu mencari teman perjalanan dalam mengarungi persoalan. Jomblo adalah elang, yang gagah berani terbang menerobos kehampaan meski hatinya dikoyak sepi.
Dalam diri seorang jomblolah, pribadi-pribadi yang kuat dapat ditemukan. Seorang Direktur HRD Perusahaan, harus mengutamakan jomblo dalam merekrut karyawan baru. Bagaimana tidak, jangankan bekerja keras dan tahan tekanan, dia (jomblo) bahkan sudah terbiasa menahan sakit puluhan kali malam minggu sendirian di taman sembari menyaksikan oranglain makan suap-suapan dan dia tetap tegar tanpa sedikitpun airmata yang tumpah dari pelupuknya.
Jangankan bekerja dalam tekanan, Seorang jomblo  sudah biasa dizalimi lingkungan sosial mengenai ‘’ketidak-laku-an’’ dirinya alias tidak punya pasangan. Dia terbiasa diejek, jiwanya kokoh karena biasa diremehkan sebab tidak punya gandengan. Tempaan hidupnya sebagai jomblo, telah menjadikannya pribadi militan dengan mental baja. Sehingga kualitas ketegaran hati dan daya banting perasaannya jauh lebih kuat diatas orang yang punya pacar. Maka ketika interview kerja, seorang Pewawancara dari Perusahaan harus menambahkan satu pertanyaan tambahan, ‘’Apakah Anda Seorang Jomblo? Jika Ya, Anda sudah berapa tahun menjomblo?..’’ pertanyaan tersebut harus menjadi kata kunci dalam penerimaan tenaga kerja baru. Karena makin lama seorang menjomblo, makin kuat dia berthana dalam tekanan dunia kerja.
Orang yang punya pacar adalah manusia-manusia lemah. Sehari saja tidak mendapat balasan chat dari pacarnya, hatinya gundah dan perasaannya tumbang. Kalau jomblo, berminggu-minggu hp sepi, ada sms masuk tapi dari operator, ada telpon paling-paling dari Penawar asuransi, biasa saja dia. Dia si Jomblo kuat-kuat saja tuh meski hidupnya sepi. Sepi itu kondisi objektif, yaitu ketiadaan orang kecuali dirinya sendiri, sedangkan kemeranaan adalah faktor subjektif yang membuat segalanya terasa menyakitkan.
Sendiri dan sepi bukan berarti penderitaan. Lihatlah seorang Petapa atau Biksu yang bermeditasi. Meski sepi dalam keheningan, kesadarannya tetap stabil dan hatinya merasa damai. Seorang yang kesadarannya kokoh, tidak akan terganggu oleh apapun yang dikatakan dan dilakukan oranglain. Berbeda dengan mereka yang terbiasa hidup dalam pandangan oranglain, hidupnya hanya dihabiskan untuk memenuhi tuntutan sosial yang membuatnya tidak lagi mengenal dirinya yang sebenarnya.
Seorang jomblo adalah manusia yang mempunyai waktu emas. Hidupnya tidak habis untuk kisah cinta yang tidak mendewasakan. Jomblo sejati menginvestasikan waktu untuk kemajuan dan perubahan. Jomblo sejati rela mati dadanya robek terterjang peluru pasukan musuh, dan berkorban demi rakyat secara umum. Kalaupun surga ada, jomblo Pejuang seperti Tan Malaka atau Chairil Anwar lah yang bakal masuk surga duluan. Yang suka pacaran tapi diam saja melihat rakyat miskin dan mereka yang hobinya berantem di taman bersama kekasihnya berada di neraka paling jahannam.
70 tahun Palestina dijajah, 15 tahun Rohingya ditindas, 200 tahun orang Afrika dibohongi Penjarah Eropa dan hidup tanpa air, ribuan kubik gunung emas Papua dirampok tiap minggu, loh kok kita hanya enak-enakan bermadu kasih secara tidak progresif. Sedangkan anggaran untuk kesehatan rakyat ditilep pejabat, korupsi merajalela, kok kita malah mencibir jomblo Aktivis yang sedang berjuang untuk perubahan. Manusia macam apa kau ini?
Untuk apa punya pacar, kalau hanya menyeret Anda ke hubungan asmara yang kekanak-kanakan? Apa gunanya kekasihmu bila hanya menjadi ‘’alarm’’ pengingat waktu makan dan tidur? Apa gunanya masa mudamu bila engkau habiskan untuk hal-hal remeh yang tidak berkemajuan?
Hei para jomblo sedunia, bersatulah melawan arus informasi dan pola pikir sesat yang disebarkan mereka yang tidak progresif. Mereka yang hanya berpikir malam mingguan bersama pacar dimana, tidak pantas mengomentari hidup Seorang jomblo yang tiap malam membaca buku dan memikirkan solusi bagi bangsanya.
Sekarang Saya tanya, buru-buru menikah juga untuk apa? Kita ini kan bukan kambing, yang asal sudah tahu fungsinya alat kelamin untuk apa, kita buru-buru ingin ‘’menggunakannya’’. Anda itu Pemuda, maka mencarilah dulu pengalaman dan wawasan sebanyak-banyaknya. Berkaryalah dulu untuk masyarakat dan Bangsamu. Jangan biarkan Desamu, Negerimu dipimpin Pejabat amoral yang tidak becus mengurus Negara.
Anda jangan cukup asal mendapat kerja, lalu buru-buru menikah. Belajarlah politik, mulai semuanya dari berorganisasi, membaca buku dan menulis. Sehingga suatu hari nanti Anda siap menggantikan estafet kepemimpinan Negara dan membawa Indonesia menuju Negeri makmur yang berkeadilan sosial bagi seluruh Rakyat.
Jangan percaya slogan ‘’MENIKAH SAJA DULU. REZEKI BISA DICARI BELAKANGAN!’’. Jangan ikuti propaganda ‘’BILA SUDAH ADA YANG SIAP DIAJAK KE KUA, SEGERA NIKAHI!’’. Dua slogan itu hanya relevan bagi yang sudah mapan dan mempunyai karya. Kalau Anda Pemuda yang belum pernah berjuang untuk perubahan, ya jelas slogan tersebut hanya akan menjadi sia-sia.
Jangan sampai pernikahan itu seperti ternak kambing. Hanya untuk pelampiasan nafsu seksual, lalu menghasilkan keturunan, yang akhirnya hanya memperbanyak Penghuni bumi. Anak baru juga berarti mulut baru, yang butuh makan dan dihidupi, serta subsidi bertambah. Lalu kalau tidak ditunjang dengan kemampuan berkarya dan pekerjaan yang stabil, makin beratlah beban Negara ini.
         Jika demikian adanya, menikah hanya akan melahirkan kaum miskin baru yang memberatkan anggaran pembangunan. Bukankah hidup seperti itu lebih buruk daripada hidupnya seorang Jomblo? Semua Nabi dan Rosul, selalu lebih suka ummat yang sedikit tapi berkualitas daripada banyak tapi tidak bermanfaat.
     Saran Saya, tetaplah teguh menjadi Jomblo yang sedang merintis perubahan. Peduli setan dengan omongan oranglain. Biarkan cercaan mereka menjadi sampah yang menguap tanpa makna, lalu jawablah dengan karya dan bukti nyata. Persetan dengan pendapat mainstream awam. Hidup Jomblo punya visi dan berprestasi!

Rabu, 11 Oktober 2017

Mau Dibawa Kemana Perkaderan HMI Jakarta Selatan?

          Karena Senior Course-lah, Saya menanggalkan celana robek-robek, kalung baja dan Jaket ala Punk. Usai memilih menjadi Instruktur, Saya lebih memperhatikan penampilan. Saya menjadi peduli dengan baju yang Saya pakai, juga celana macam apa yang Saya kenakan.
Ya, menjadi Instruktur di HMI mendorong perubahan cukup berarti dalam diriku. Dahulu, Saya dapat seenaknya mengenakan celana robek-robek saat mengisi kajian atau diskusi. Bahkan, bertemu Pejabat pun Saya seringkali menggunakan jaket robek kebanggaan Saya yang Saya beli dari sejak kelas 3 MTs dulu di Desa.
Pada tanggal 30 September 2017, ketika terpilih menjadi Ketua Umum BPL HMI Jakarta Selatan, Saya tersenyum-senyum. Manusia macam Saya begini mau ngapain kalau sudah jadi Ketua? Karena sebelumnya, Saya orang yang sangat nyaman sekali diluar sistem, meski Saya beberapa kali menjabat di kepengurusan, otak Saya tetap otak ''liar''.
Orang-orang pada bertanya ke Saya, ini BPL JakSel mau dibawa kemana? Jangankan mereka, Saya juga terkadang berpikir, ini BPL JakSel mau Saya bawa kemana ini? kalau ada yang bertanya Perkaderan di JakSel mau dibawa kemana, lebih baik ke sini temui Saya, dan mari kita berpikir cari jawabannya bareng-bareng, hehe.
Jadi begini, di HMI Jakarta Selatan dalam perjalanannya, Anda akan menemukan tingkah laku kader yang aneh-aneh dan serba anomali.
Mulai dari Ketua Cabang yang menjabat lebih dari 3 tahun, LPJ Ketua Cabang terdahulu yang cuma lisan (tanpa pembukuan) dan hanya disampaikan kurang dari 20 menit, LK-1 dikelola orang yang belum SC/TI meski sudah ada BPL-nya, 30% Pengurus Cabang belum LK-II, hingga kader yang kerjaannya demo melulu tapi tidak pernah masuk kuliah.
Saya sadar, HMI Jakarta Selatan adalah wilayah pusat kekuasaan. Tarikan dan pengaruh lingkungan, membuat rangsangan politik menjadi lebih dominan masuk ke alam bawah sadar kader ketimbang nalar intelektual. Beberapa orang memang ada yang sangat cerdas dan berkualitas, tapi tidak sedikit yang hanya menjadi pion dan massa bayaran tatkala ada ‘’proyek’’ pesanan atas isu-isu tertentu.
Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Saya tidak menyalahkan PJS BPL yang ‘’kabur’’, Saya tidak memojokkan BPL yang selama setahun ini tidak mampu memperkuat kelembagaan, Saya juga tidak menyudutkan Pengurus Cabang yang sudah mati-matian merapikan barisan dan kekompakan.
Ketika Saya terpilih menjadi Ketua Umum BPL HMI Jakarta Selatan, kondisinya memang butuh segera direstrukturisasi. Ada beberapa bekas luka peristiwa dan cacat hubungan yang harus diobati segera. Baik ditubuh antar-Komisariat, Cabang atau pun Kohatinya.
Meski Saya sudah melanglang buana mengelola training ke beberapa Kota dan Provinsi. Mulai dari Lebak, Kab. Bandung, Bekasi, Kota Bogor, Cilegon dan hampir semua Cabang di Jakarta, Saya sekalipun tidak pernah mengelola training di Cabang sendiri.
Saya memang agak aneh. Bukan karena Saya diblokir atau Saya menolak, dulu ketika Saya ditawari mengelola, pemberitahuannya selalu mendadak. Sedangkan Saya sudah ada tawaran mengelola training di tempat lain dan di Cabang lain.
Jadi undangan yang pertama datang lah yang akan Saya hadiri. Tiap beberapa kali diundang mengelola di Komisariat atau Cabang sendiri, kebetulan sekali Saya pas sudah ‘’di-booking’’ di tempat lain.
Seingat saya, sudah 4X Saya menolak mengelola training di Jakarta Selatan. Beberapa karena alasan kalau saya sudah duluan mendapat undangan mengelola di Komisariat dan Cabang lain. Beberapa karena faktor prinsip yang akhirnya membuat saya tidak mungkin meng-iyakan karena menyalahi dasar pemikiran Saya.
Makin dalam saya memiliki pengalaman mengelola training, makin ingin saya meninggalkan panggung pelatihan dan memberikan pada oranglain yang lebih muda untuk tampil, gantian di depan. Saya lebih mementingkan regenerasi Instruktur ketimbang Saya terus yang aktif dan eksis.
Tiap hari saya makin tua, makin keriput, makin ringkih dan harus makin tenggelam. Biarkan darah segar dan Instruktur muda yang menggantikan peran saya di perkaderan.
Visi saya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin di Jakarta Selatan, masing-masing Komisariat memiliki Instruktur sendiri-sendiri. Agar kalau Komisariat tersebut mengadakan LK-1, Instruktur yang lain kita berikan tugas untuk membantu menyukseskan pen-trainingan-nya.
Begitu pun sebaliknya. Bila Komisariat asal Instruktur A mengadakan LK-1, maka Instruktur dari Komisariat B, C, dan D Kita undang juga untuk membantu pengelolaan. Nanti kalau Komisariat C atau D mengadakan LK-1, Instruktur dari Komisariat A dan B juga kita undang untuk membantu menyukseskan pengelolaan training. Jadi ada sistem gantian membantu, agar terjadi sharing metode dan tukar budaya perkaderan di masing-masing komisariat.
Sebagai Instruktur, mengapa Saya cenderung Politis? Ini  semua berangkat dari cara berpikir dan prinsip hidup Saya. Saya percaya, manusia seharusnya hidup setara dan merdeka. Kalau pun ada istilah yang identik dengan hierarki, atau hubungan tinggi-rendah, itu hanya sekedar simbol, bukan format hubungan yang bersifat formal dan kaku.
Misalnya begini, boleh ada istilah Senior-Junior, kalau hanya simbol yang menggambarkan hubungan antar kader yang Tua-Muda. Tapi hak dan kewajiban tetap setara dan proporsional. Kalau senioritas diartikan ‘’segala yang dilakukan dan dipilih si Kader Muda harus meminta persetujuan Senior terlebih dahulu, maka yang demikian tersebutlah yang Saya LAWAN!’’.
Saya percaya Senioritas semacam itu adalah bentuk lain  dari eksploitasi Anak manusia berkedok umur dan ‘’masuk HMI duluan’’. Jadi jangan mentang-mentang mereka lebih Tua dan masuk organisasi duluan, mereka bisa seenaknya memperlakukan kita. Yang demikian hanyalah politik belaka. Ketika  kita rentan menjadi objek dan korban mainan politik elit senior, kenapa kita mesti tidak berpolitik? Maka pada saat yang tepat dan kondisi yang memaksa, berpolitik adalah wajib bagi seorang Instruktur.
Saya menamakannya Politik Instruktur. Yaitu suatu jalan politik yang diambil apabila perkaderan terancam akibat politisasi yang dilakukan oleh orang-orang diluar perkaderan. Politik Instruktur diterapkan ketika cara-cara benar diabaikan dan standar nilai diacuhkan oleh bedebah tengik yang pikirannya hanya KEPENTINGAN kekuasaan belaka.
Saya bukannya kok kurang ajar atau tidak memiliki sopan santun pada Senior. Saya hanya mendambakan kehidupan yang merdeka berpikir, bebas berkehendak dan terserah seorang tersebut memilih jalan hidup yang bagaimana. Toh bukankah pertanggungjawaban di akhirat dilakukan sendiri-sendiri dimuka Tuhan, kenapa kita mesti diatur-atur? Kenapa kita mesti tunduk? Kenapa mesti takut MELAWAN?
Saya tidak mau berjanji setinggi langit. Saya hanya ingin kader HMI di Jakarta Selatan menjadi Manusia yang mampu menerjemahkan persoalan zaman. Saya ingin para kader hidup tanpa kungkungan senior dan bergaul dengan siapapun dan dari latar belakang apapun. Di Eropa Barat dan Amerika Serikat sana yang sudah maju, orang tidak lagi bicara siapa yang lebih tua. Seseorang tidak diukur dari umurnya berapa, tapi kualitas skill-nya bagaimana!
Saya tidak mau kader HMI Jakarta Selatan menunduk-nunduk takut di depan mereka si Golongan Tua. Saya tidak mau mereka diperlakukan mirip budak, yang kehendaknya disandera donasi, kebijakannya dikerangkeng balas budi, dan program-program dijalankan hanya seremonial tahunan yang tidak menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Saya berterimakasih karena dilahirkan dalam keluarga Petani miskin yang tidak punya apa-apa. Karena tidak punya apa-apa, ketika mengatakan ‘TIDAK’’ pada senioritas, saya tidak merasa bakal kehilangan apa-apa. Saya tidak takut mereka men-stop bantuan pendanaan. Saya tidak takut mereka memblokir akses perkenalan, saya tidak khawatir apakah besok saya makan atau tidak. Karena sepeser pun saya juga tidak pernah merengek minta makan pada Golongan Tua.
Perkaderan di HMI yang dinafasi oleh dasar berpikir NDP, bagi saya sangat relevan untuk dijadikan dasar ‘’peta jalan’’ dalam mengarungi hidup. Di NDP, Saya menginternalisasi nilai bahwa sampai matipun saya tidak akan berkata ‘’YA’’ pada senioritas. Saya tidak peduli apakah besok saya makan daun kering yang jatuh dipinggir jalan atau hidup menahan perut perih, yang penting kemerdekaan saya terselamatkan.
Saya sadar, mengajak orang untuk merdeka tidak mungkin tanpa pemahaman. Mereka kader HMI Jakarta Selatan bukan robot yang bisa di-setting semau Kita, mereka seutuhnya Manusia. Mereka butuh disadarkan. Mereka butuh didorong untuk menjemput kebenaran, lalu pelan-pelan dan istiqomah menginternalisasi untuk menjadi sistem pikir dalam dirinya.
Bila mereka menyambut niat baik ini dan siap bekerja keras menggalang kesadaran, Saya akan menyelengarakan kajian, pelatihan, upgrading dan diskusi mengenai banyak hal. Mulai dari bagaimana caranya Pengurus Cabang dan Komisariat lebih paham tentang tata administrasi, pembagian tugas jabatan, atau hal-hal yang arahnya ke pembangunan pola pikir diri.
Saya ingin sekali membuat suatu program-program dimana kader HMI Jakarta Selatan mampu membedakan mana sesuatu yang penting, dan mana yang bukan prioritas. Mana sesuatu yang harus dipertahankan dengan nyawa, dan mana yang bisa dilepas kapan saja. Mana yang sakral, dan mana yang biasa saja.
Saya tidak ingin naluri premanisme yang banyak dicontohkan para senior tumbuh pada kader-kader baru. Saya ingin menampar kesadaran mereka bahwa kalau seorang anak manusia menyukai kekerasan, sesungguhnya manusia tersebut tidak ada bedanya dengan anjing atau badak.
Saya percaya, hidup memang membutuhkan kerjasama. Saya juga yakin, ketika dunia di penuhi penindasan, maka seseorang harus MELAWAN. Sudah jelas-jelas di dunia ini banyak sekali terjadi praktik ketidakadilan, kalau saya tidak membekali kader HMI Jakarta Selatan dengan ilmu perlawanan dan keberanian memberontak, bagaimana mungkin mereka dapat membela kehormatan dirinya dari tindakan arogan oranglain yang zalim?
Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi penyadaran ini dilakukan? Dunia sudah bergerak ke arah kerusakan akut, perang dimana-mana, pembantaian terjadi hampir dibelahan muka bumi. Kalau hari ini Saya tidak MELAWAN, lalu apa yang dapat ku wariskan pada kader-kader nanti? Hidup macam apa yang ku contohkan pada anak-cucuku? Sedangkan dalam dunia yang dipenuhi penindasan, warisan paling berharga adalah KEBERANIAN.
Sebagai orang yang dipilih untuk memimpin BPL HMI Cabang Jakarta Selatan, saya akan membawa perkaderan di Jakarta Selatan ke arah kemerdekaan tiap individu kader dan memantik keberanian mereka bila sewaktu-waktu mereka menjumpai kesewenang-wenangan atau ketika Konstitusi HMI dicampakkan. Saya tidak mengajari pemberontakan atau brutalitas, tapi ini semua adalah tentang hidup yang berani MELAWAN tatkala diperlakukan tidak fair.
Saya masih mempercayai 3 jalan kader HMI Jakarta Selatan untuk maju. Pertama, kader wajib rajin baca buku. Kedua, kader harus rutin ikut kajian dan diskusi kritis. Ketiga, kader wajib rajin bersilaturaHMI dan bergaul dengan siapapun dan dimanapun. Agar mereka tidak ketinggalan arus informasi penting. Berpolitik tanpa informasi terbaru adalah celaka.
Ketiga jalan diatas adalah konsumsi wajib bagi modal awal perkaderan yang baik. Apalagi ditambah praktik kepemimpinan dan aksi lapangan. Seorang kader yang sudah menjalani 3 hal diatas secara rutin, maka dalam 1 tahun saja, sudah akan terlihat dia mempunyai potensi menjadi calon Pemimpin masa depan. Entah Pemimpin suatu raksasa sistem, atau Pemimpin tangguh dalam perlawanan menuntut keadilan.


Minggu, 24 September 2017

Gagak yang Sayapnya Patah Dua Hari


Di depan kamar kos, Aku biasa menghabiskan waktu dengan membaca buku. Di salah satu dindingnya, terdapat patung Yesus. Dia menempel di tembok bersama diam. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia tertancap disana. Sejak Aku menghuni kos-kosan ini, Dia sudah berdiri tertunduk, dengan tangan disalib yang tak berdarah.
Aku tidak tahu persis supaya apa patung Yesus dipasang disitu oleh Pemilik Kos. Mungkin, fungsinya mirip kaligrafi lafadz ‘’Allah’’ yang biasa dipajang di ruang tamu keluarga Muslim. Gunanya sebagai alat bantu mengingat kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Malam itu malam Kamis 20 September 2017, Cahyono dan Tibayuda main ke kosan. Cahyono sudah di kosanku sehari sebelumnya. Rencananya, malam itu Aku sama Tibayuda berkunjung ke LK-II HMI Cabang Ciputat. Tetapi, pukul 21:00 WIB, Jakarta Selatan diguyur hujan. Terpaksa kami menunggu hujan reda. Kebetulan, Cahyono ada janji dengan seseorang di tempat lain. Jadi dia tidak bisa menemani ke Ciputat.
Hujan baru reda pukul 23:30 WIB. Sebelum kami berangkat, terlebih dahulu Ferdian dan Richard menghubungi beberapa kali. Mereka berdua memastikan, apakah Aku jadi main ke Ciputat atau tidak. Aku senang ditanya ‘’Ter, Jadi ke Ciputat gak nih? Ku tungguin nih!’’, ujar Ferdian melalui pesan Whatsapp.
Aku senang bukan karena hendak dikasih apa-apa. Pada jaman edan begini, Aku senang masih ada orang tersenyum lebar menyambut tamu meski tanpa kepentingan apa-apa. Karena sudah janji, Tibayuda yang agak males-malesan berangkat, ku ‘’paksa’’ dia untuk tetap mau menemaniku pergi ke Ciputat. Ciputat adalah sebuah kecamatan di Tangerang Selatan, yang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten. Tapi letaknya sangat dekat dengan Ibukota, khususnya Jakarta bagian Selatan.
Jam 23:40 WIB hujan reda, dan Aku segera berangkat. Tanpa helm, tanpa SIM, tanpa STNK. Bahkan plat motorku yang belakang pun sudah lama tidak ku pasang sejak copot beberapa bulan yang lalu. Tapi tak apa, Orang tengah malam juga. Tidak ada Polisi di jalanan, Hehe...
25 menit kemudian, kami sampai di gedung KOPERTAIS. Tempat training LK-II HMI Cabang Ciputat diselenggarakan. Di sana, seperti biasa Aku bertemu beberapa orang Master yang sudah tidak asing lagi. Orang seperti Andri Fikri, atau biasa disapa Master Didi, sangat mudah ditemui dalam tiap momen training HMI Tingkat Nasinal. Khususnya yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Selain karena dia seorang Instruktur, dia juga mempunyai usaha, yaitu menjual buku-buku pemikiran dan buku-buku Agama. Segmennya tentu saja peserta training, Panitia penyelenggara atau tamu yang hadir. Ini pilihan bisnis yang cukup cerdas.
Di sana, Aku dijamu Master Ali Akbar, Ferdian, Richard, Tubagus, hingga Bang Fauzan Baihaqi dan Ketum KOHATI HMI Ciputat. Sebenarnya banyak orang-orang yang sudah ku kenal, atau beberapa kali bertemu. Hanya saja, Aku kurang bisa menghafal nama-nama orang yang belum akrab denganku. Jadi, bila bertemu di jalan atau kebetulan berpapasan, Aku ingat bahwa dia kader HMI. Dan Aku pun tetap akan menyapanya, meski bukan dengan namanya. Paling-paling ku sapa dengan senyum kecil ‘’Bang.. Apa Kabar?...’’, ‘’Yundaaa,,,’’, begitu saja paling.
Setelah beberapa jam bercanda-canda di depan forum training, Aku dan Tibayuda diajak Master Ferdian ke sekretariat Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Jakarta. Di perjalanan, Kami (Tibayuda, Ali Akbar, Ferdian dan Tebe) mampir ke warung. Haus dini hari membuat tenggorokanku nyidam ngawur. Aku pun akhirnya pesen es Extra Joss susu. Aku minta dibungkus diplastik, untuk diminum di sekret Komisariatnya Ferdian.
Di sekret, ternyata nyamuknya banyak. Nyamuk perkotaan lebih militan ketimbang nyamuk desa. Entah karena hidup di lingkungan yang keras, atau keseringan menyedot darahnya para Aktivis. Nyamuk disana terasa kejam saat menggigit kulit. Disana, banyak hal yang kami bicarakan. Salah satunya, mengenai kondisi internal HMI Cabang Ciputat dan kendala-kendala yangs sedang mereka hadapi.
Pukul 03:00 WIB, tepat memasuki hari kamis tanggal 21 September 2017. Dini hari waktu itu, mataku sudah sangat mengantuk. Tapi, Master Ali Akbar masih bersemangat membahas persoalan-persoalan BPL HMI. Aku sempat menampar beberapa kali pipiku supaya tetap terjaga, dan supaya dapat terus menyahut apa yang Ali Akbar bicarakan.
Tibayuda dan Tebe, sudah tergeletak. Ngorok di ubin nan dingin. Pukul 04:00 WIB, Aku membangunkan Tibayuda untuk ku ajak balik ke kosan, ke Jakarta. Aku pun pamit, dan meluncur menuju Jakarta Selatan.
Sesampainya di kosan, Aku langsung tidur. Cahyono kebetulan ke kosanku lagi setelah tengah malam beberapa jam sebelumnya keluar menemui seseorang. Aku sudah bersiap tidur, tapi Cahyono dan Tibayuda masih ngobrol beberapa saat. Bahkan mereka masih sempat-sempatnya mengganggu usahaku untuk tidur. ‘’Udah tum udah tuuuum, Aku tidur dulu, jangan berisik-berisik dong. Plisss...!!!!’’, teriak sentakku, dengan muka khas orang ngantuk kepada mereka berdua.
..................
Waktu tidur berlalu. Kami bertiga bangun sekitar duhur. Karena bergadang sepanjang malam, perut kami pun terasa lapar melilit. Untung, pagi sebelumnya, saat Aku masih tidur, Cahyono dan Tibayuda sempat bangun dan jalan-jalan keluar kosanku. Sekembalinya mereka dari luar dan sebelum mereka tidur lagi, lalu bangun lagi bebarengan denganku, mereka sempat membeli sebatang tempe. Aku tidak tahu mereka membeli tempe dari mana.
Usai duhur, saat badan sudah mulai fit, kami bertiga memutuskan untuk memasak bersama. Dan menjelang sore, semua masakan sudah matang. Kami pun kenyang, damai dan bebas dari perut keroncongan.
Pada malam berikutnya, mereka berdua balik. Tiba-tiba, perutku mual, kepalaku pusing, badanku terasa hangat. Aku baru saja membaca buku karangan Fethullah Gullen, dan baru menyelesaikan beberapa halaman, terpaksa mengakhirinya dan menjatuhkan badan di atas kasur. Tidak berapa lama kemudian, Tibayuda mengirim pesan padaku. ‘’Master Mualimin, sabtu pagi siap ya ngisi Materi Konstitusi HMI di LK1 Komisariat UNIS?’’, tanyanya dengan agak memaksa.
Malam itu, Aku mengiyakan tawaran Tibayuda. Aku berharap, pada hari jumat, pada seharian hari itu Aku sudah mampu memulihkan tubuhku. Aku curiga, demamku ini karena sebab Aku masuk angin, kurang olahraga, atau karena usai minum es pada dini hari yang dingin. Soalnya, pas aku balik dari Ciputat, embun dari langit terasa tebal dan sangat dingin. Dingin bagai pagi hari di Korea.
Depan kosanku, sejatinya perumahan mewah kelas atas. Tetapi, karena mereka tidak sudi membaur dengan masyarakat kelas bawah (salah satunya pemilik kosanku), orang-orang kaya tersebut menembok perbatasan rumah mereka. Akhirnya, tepat dua meter di depan pintu kosanku, menjulang tembok setinggi 7 meter, lalu diatas tembok masih ditambah dengan seng setinggi 3 meter. Akibat ulah orang-orang kaya ini, sinar matahari dan angin sepoi-sepoi dari alam tidak pernah sampai dikosanku. Kamar kosanku jadi terasa lembab dan tidak segar.
Alam ini ciptaan Tuhan. Udara segar, oksigen dan angin alam harusnya menjadi hak semua mahkluk di muka bumi. Tapi kenapa mereka memblokirnya? Gara-gara mereka membangun tembok setinggi itu tepat di depan kamar kosanku, Aku tidak pernah merasakan sinar matahari. Aku tidak pernah mendapat momen indahnya mentari terbit di ufuk timur. Apa perlu Aku adukan mereka ke KOMNAS HAM RI? Agar mereka sadar betapa zolimnya mereka padaku.
Bahkan untuk berkeringat pun Aku kesusahan. Akhirnya kalau sudah masuk angin begini, susah sekali Aku membuang racun dalam tubuhku melalui keringat. Padahal sinar matahari harusnya milik kita bersama, tapi kenapa mereka memblokade sinar mentari yang harusnya juga menjadi milikku, hakku?
Jumat siang, usai waktu sholat jumat, aku naik ke loteng. Di atas, selain biasa digunakan menjemur pakaian, juga satu-satunya tempat dimana aku dapat melihat sinar matahari, merasakan udara bergerak dan memandangi senja yang indah.
Siang hari yang terik, Aku berolahraga di atas. Bukan lari-lari atau senam, tapi aku berusaha mengingat-ingat kembali gerakan-gerakan silat yang pernah aku pelajari dulu di desa. Dahulu, waktu kelas 3 MTs sampai kelas 3 MAN, Aku berguru silat PSHT di Rengel, Tuban. Jadi, aku mengulang-ulang gerakan silat untuk mengeluarkan keringat. Mulai dari push up dengan mengepal, gerakan jurus, hingga mempraktikkan kembali tendangan, pukulan dan jurus-jurus tertentu yang gunanya sebenarnya untuk melukai orang.
Alhamdulillah, berkat bantuan sinar matahari, dalam 30 menit saja aku sudah mampu mengeluarkan cukup banyak keringat. Meski nafasku tersengal-sengal, tulangku nyeri dan badan terasa berat mau pingsan, setidaknya sudah ada racun yang keluar dari tubuhku.
Badanku terasa dingin, pandanganku terlihat kunang-kunang. Hanya di bawah sinar mataharilah, tubuhku merasa hangat dan merasa lebih baik. Dalam kehidupan yang terasa menggigil, peran matahari sangat vital. Mungkin sebab seperti inilah, yang membuat Bangsa Jepang ‘’menyembah Matahari’’. Wujud Tuhan suatu masyarakat, dilatar belakangi keadaan alam dan kondisi lingkungan orang-orang pemujanya.
Sudah letih, aku kembali turun, merapikan kasur dan membanting tubuh ke alas tidur. Kali ini tidak hanya dingin yang ku rasakan, persendian bahu kanan dan kiriku, terasa nyeri dan seperti bernafas. Disela-sela tulangku, terasa ada hempasan udara dan berdenyut-denyut aneh. Seolah ada makhluk yang ingin keluar dari dalamnya. Entah ini halusinasi atau efek panas dalam tubuhku. Hari itu, benar-benar terasa panjang dan melelahkan. Tidak ada satu orangpun yang ada disisiku.
Terlentang, miring, terngkurap, duduk, lalu rebahan lagi. Semua gaya istirahat ku coba satu per satu. Tapi semua gagal membuat badanku terasa nyaman. Aku bagai burung yang terpanah, yang jatuh kelepek-kelepek tak berdaya. Tenagaku habis, bulu-buluku rontok, dan darah mengalir deras dari otot-ototku. Aku bagai gagak yang sayapnya sempal. Merpati yang tak mampu terbang lagi. Entah karena panah beracun, atau panah cinta yang mengoyak sayapnya. Aku ringkih, bagai nyamuk yang sedetik jatuh karena tepokan dua belah tangan kekar.
Aku sendiri, merana, merengek dalam diam, meratap dalam kesepian. Bahkan nyamuk yang tadi malam menggauliku pun enggan menggigitku siang itu. Seolah Aku ini makhluk pesakitan, yang bernanah busuk dan berdarah pahit pesing. Sakit ini terasa mencekik. Seolah penyakit ini ingin menaklukanku, menjatuhkan semangatku, membunuhku secara bengis iblis. Hingga aku ikhlas menyerah hidup dan berkata ‘’Tolong sudahi ini semua dengan kematianku!’’, bisiknya dengan muka keparat.
Ingin rasanya Aku menangis, tapi aku kan Pria. Bagaimana mungkin Aku akan menangis? Dimana harga diriku kalau sampai airmataku terjatuh? (jiaaah... lebay amat.... pengen nangis nangis aja sih, agak ada orang juga... hehe).
Dua hari lamanya Aku mendekam. Dua hari aku tergeletak bak kaos kaki lusuh-bau yang sebelumnya dibuat kejebur dalam got. Dua hari hari itu, adalah saat-saat yang menyiksa. Tidak makan seperti biasanya, tidak mandi, tidak keluar, dan tidak nonton film, (karena laptopnya yang jadul gagal menyala hehe..).
Dalam diri yang menyedihkan hari itu, ku pandangi foto-fotoku saat demonstrasi. Aku kagumi diriku saat memimpin aksi, saat orasi, saat memarah-marahi Pejabat Negara yang tidak becus menyejahterakan rakyat. Dengan gagahnya Aku berdiri di tengah jalanan, memegang toa tercinta, dan bersama kawan lainnya berdorong-dorongan menerobos barikade aparat.
Kegagahanku di foto yang ku ciumi hari itu, foto yang membuat mataku berlinang airmata, sama sekali tak nampak dalam diriku hari itu. Aku yang pernah gagah berani, hari itu ku jumpai dalam bentuk manusia lusuh, lemah, bau dan tak bertenaga. Sungguh aku yang hari itu sangat menyedihkan.
Hari jumat itu, aku memaksa diriku untuk naik lagi ke loteng. Aku push up, menendang, memukul, menjurus, dan segala gaya gerak ku cobai satu-satu, sambil berharap matahari menurunkan kalornya dan membakar keringat dalam tubuhku. Aku sudah terlanjur menerima undangan mengisi materi di Komisariatnya Tibayuda. Dia pun mewajibkanku untuk hadir, dan aku pun tidak mau dia kecewa padaku.
Malam sabtu, belum ada tanda-tanda tubuhku memulih. Bahkan sepanjang malam pun aku belum dapat memejamkan mata. Padahal besok aku mesti bangun pagi, dan segera mencari kereta paling awal menuju Kota Tangerang, tempat LK1 HMI diselenggarakan. Setelah mengisi materi, Aku juga ada janji dengan teman-teman Ampera Community, yaitu datang kondangan ke nikahannya Nuha-Nida, Junior yang rumahnya di Bekasi. Dan tanpa di duga-duga, malam minggunya ada pelantikan Pengurus HMI Komisariat LIPIA yang secara moril, Aku patut datang. Karena Aku Pengurus Cabang. Keinginanku terlalu besar dari apa yang dapat disanggupi tubuhku. Dunia ideal terlalu sempurna untuk disanggupi alam kenyataan.
Ah, pikiran memang terlalu mobile. Tapi tubuh tidak selalu dapat memenuhi tuntutan jiwa. Manusia ingin terbang, tapi tidak punya sayap. Manusia ingin abadi, tapi beberapa tahun lagi pasti mati. Pohon kacang yang diberi makan cahaya, masih berkeinginan memeluk matahari, maka dia tumbuh ke atas dan akhirnya tidak pernah bisa mencium mentari, si kekasihnya.
Ada orang ingin kuliah, tapi dia anak petani miskin. Ada Ibu muda baru melahirkan, bayinya malah direndam dengan air panas oleh Perawat Rumah Sakit dan mati seketika. Ada Perempuan ingin menjadi Istri yang tiap hari memasak untuk anak dan suaminya, tapi sayangnya Dia terlanjur jadi Pelacur dan terjerat hutang pada Sang mucikari. Artis-artis cantik yang sering putus dengan cowoknya yang artis juga, sesungguhnya memiliki jutaan fans yang siap mati demi mendapat cinta dari idola. Ada seorang anak gadis yang senangnya minta ampun karena gaji pertamanya cair, tiba-tiba mesti menangis di pojok halte usai mendapat telpon dari cowoknya yang ngajak putus.
Dunia ini, menyuguhkan beragam kisah kejam yang ketika kita renungi deritanya, bakal membuat kelopak bercucuran airmata.
Para Pemuka agama sibuk melihat persoalan dunia dari teks kitab. Padahal manusia harusnya membaca teks dari kacamata kenyataan hidup. Dunia ini sudah makin terbalik-balik. Orang mau menangkap maling, malah disiram air keras. Mahasiswa mengkritik demi kemajuan, malah dipolisikan oleh Rektornya. Mengapa jutaan orang diusir, ribuan rumah dibakar dan puluhan ribu ditembaki hanya karena beda etnis? Dunia macam apa ini? Mengapa hidup terasa menyedihkan begini? Kemana larinya doa-doa keselamatan yang dipanjatkan? Kenapa tangan Tuhan tidak hadir dalam tragedi? Apa gunanya kita manusia, dilempar ke bumi bila hanya menjumpai kehidupan yang dipenuhi kejahatan seperti ini? Dimanakah cinta?
Tubuhku sakit, tapi jiwaku ingin lepas dan menjelajah muka bumi. Lelah, sangat melelahkan. Sedang sakit, tapi tidak bisa memejamkan mata. Ibarat seorang Ibu yang tidak bisa berenang, tapi mesti menyaksikan langsung balitanya tenggelam di danau. Gila! Dunia ini sudah gila! Bahkan sampai gilanya, semua orang tidak sadar bahwa di dunia ini ada masalah yang serius. Ini adalah gila yang gila, tapi payahnya terasa normal. Ini super gila..
Ah sudahlah, Aku bukan siapa-siapa. Berdiri pun aku terancam rubuh, kenapa mesti gaya-gayaan memikirkan masa depan peradaban manusia. Dinosaurus yang seperkasa begitu saja punah kok, apalagi manusia yang tulangnya kejepit pintu saja sudah retak. Punya tanggungjawab apa Aku pada masa depan umat manusia?