Sabtu, 09 Maret 2013

Ajaran Kebenaran Setia Hati Terate



Menjadi Insan Terate yang Sejati

Bagi seluruh saudara Persaudaraan Setia Hati Terate, sesungguhnya para pendahulu kita sering berpesan bahwa ajaran ilmu Setia Hati Terate selaras dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits, tidak ada se inchi pun ajaran Setia Hati Terate yang bertentangan dengan ajaran dan isi syari’at islam, hanya saja penyampaian ilmu tentang kebenaran yang sejati tersebut sedikit berbeda, jika islam mengajarkan syariatnya dengan begitu fleksibel dan tanpa paksaan, PSHT pun begitu, bedanya terletak pada unsur pelatihan jiwa dan raga agar mampu menjadi insan yang kuat secara fisik dan non-fisik, serta mampu meresapi nilai-nilai persaudaraan diantara sesama anggota Persaudaraan Setia Hati Terate.

Islam tak pernah memaksa seseorang untuk masuk dan mengakui islam sebagai ajaran agama yang paling benar, islam hanya memberikan opsi dan alasan bahwa kebenaran itu hanya ada satu, yaitu islam sebagai ajaran agama yang menuntun pada kebenaran yang sejati, namun islam juga memberikan kebebasan yang besar terhadap manusia untuk memilih, jika ingin selamat didunia dan diakhirat, silahkan masuk islam dan beriman kepada Allah, jika ingin kafir dan hidup tanpa rahmat Allah, silahkan mencari Tuhan dan agama selain Allah dan islam, begitu mulia ajaran agama islam sehingga para leluhur pendiri Setia Hati Terate menyelaraskan dasar perguruan PSHT sesuai dengan tauhid. Ajaran PSHT mengutamakan pernghormatan yang tinggi atas derajad manusia, tidak memandang dari suku dan agama apapun, PSHT selalu mengajak dan merangkul bagi siapa saja yang mencintai persaudaraan dan perdamaian, namun perjalanan untuk menjadi seorang yang Ber-Setia Hati secara benar dan murni sangat-sangat tidak mudah, butuh olah rasa dan kebatinan yang tinggi dan lama dalam mengikuti proses pencapaian kesempurnaan tersebut, bertahun-tahun dididik dengan keringat, airmata, kelelahan dan latihan beladiri saja belum cukup, tidak hanya cukup sampai disahkan menjadi warga saja, tidak cukup menjadi kesatria bersakral hitam yang jago berkelahi lalu mempunyai saudara dan kawan banyak, tidak cukup sampai disitu saudara, karena PSHT yang sejati mengajarkan tentang hati manusia yang mampu menempatkan jiwa dan raganya dalam setiap kebenaran dan kejujuran, hati manusia yang dengan kelebihan yang dimiliknya mampu selalu berserah diri kepada Tuhan kebenaran (Allah), hati yang senantiasa mau berbagi dan selalu mengutamakan kepentingan sesama sebagai prioritas hidup dalam kehidupan masyarakat, khususnya terhadap saudara di Persaudaraan Setia Hati Terate.
Setiap langkah dan nafas orang PSHT selalu diiringi dengan dzikir dan rasa syukur, namun tak pernah dijumpai dimanapun, bahwa ikatan lahir batin yang dimiliki perguruan PSHT adalah yang terkuat diantara ikatan diperguruan lain yang serupa, orang PSHT adalah tempatnya orang-orang yang suka bersilaturahmi dan orang-orang yang suka bersaudara, ibarat bau keringatnya saudara PSHT yang satu dengan yang lainnya pun saling mengetahui, itulah salah satu kuatnya persaudaraan orang PSHT, namun banyak sekali warga Terate yang lupa akan jatidiri mereka masing-masing, banyak yang terjerumus oleh tipu daya duniawi sehingga memilih jalan kesesatan dan kemungkaran, memang tak dapat dipungkiri, bahwa banyak cara seseorang dalam menikmati dan menjalani hidup, baik buruknya pilihan tersebut merupakan hak mutlak yang tak bisa kita ganggu gugat, sebagai sesama cucu eyang Suro, setidaknya sesama anggota PSHT wajib saling mengingatkan, urusan mau kembali ke jalan yang benar atau tidak itu bukan masalah, karena tidak ada yang dapat merubah seseorang kecuali dirinya sendiri, saudara hanya dapat mempengaruhi dan mengingatkan saja, namun keputusan masih tetap berada dalam hati dan diri masing-masing.

Orang Setia Hati Terate dilatih beladiri, pernafasan, cara mengobati diri sendiri maupun orang lain, diajari sopan santun dan beretika hanyalah semata-semata usaha agar orang-orang PSHT menjdi manusia yang mempunyai derajat dan harga diri, karena suatu kehinaan manusia begitu nampak jelas terlihat ketika manusia itu menghadapi suatu cobaan hidup, dengan jiwa raga yang kuat dan terlatih dalam menghadapi setiap beban hidup dan masalah, dan ketika itu pula manusia tersebut sedikit demi sedikit mempunyai bekal dalam masa depannya nanti, sesepuh PSHT selalu mengingatkan agar orang PSHT jangan sampai memanjakan jiwa dan raga, hidup yang hanya sekedar biasa-biasa saja hanya akan melahirkan insan yang lemah dan jiwa yang kosong, setiap detik merupakan latihan agar manusia sedikit demi sedikit namun rutin semakin hari semakin menjadi insan yang lebih baik dari hari kemarin, ibarat bunga terate yang semakin hari semakin mekar dan merekah lalu menunjukkan bentuknya yang kharismatik dan sempurna, manusia dituntut menjadi manusia yang konsisten dengan prinsip hidupnya, orang PSHT sangat mengedepankan keteguhan prinsip, satu kata satu perbuatan, setidaknya banyak berbuat jauh lebih baik daripada hanya pandai berucap, ibarat ayam yang setiap pagi tanpa kepastian, apakah disaat mentari mulai menampakkan sinarnya seekor ayam sudah terjamin akan mendapatkan makanan untuk dirinya sendiri atau untuk anak-anaknya? yang jelas tidak, namun seekor ayam tanpa pernah mengeluh, selalu berusaha dan mengais mencari makanan baik itu dibawah sampah, dedaunan maupun butiran debu sebagai usaha untuk mengisi perutnya, perlahan namun pasti usaha ayam tersebut tidak sia-sia, selalu ada butiran berkah makanan dalam setiap usaha ayam tersebut, itulah pelajaran dari seekor ayam, begitu mulia Allah menciptakan setiap makhluknya, sehingga semua yang ada didunia ini tiada yang sia-sia, oleh karena itu orang PSHT senantiasa dituntut agar selalu bekerja dan berusaha keras, tidak ada suatu hal yang tidak mungkin jika kita mau berusaha, sehingga jika ada warga PSHT yang hidupnya hanya bermalas-malasan sesungguhnya dia tidak lagi pantas menjadi orang Setia Hati Terate.

Manusia yang lahir selalu membawa sifat egois, itu sudah takdir Allah bahwa manusia selalu egois dan hanya memikirkan dirinya masing-masing, contoh yang sederhana,: ada dua orang A dan B yang sedang kelaparan, si A hanya mempunyai sepiring nasi dan hanya cukup mengenyangkan satu perut, yang menjadi pertanyaan apakah si A tersebut akan memakan sepiring nasi tersebut sendirian atau membaginya kepada si B, yang jelas jawabannya adalah si A akan memakan sepiring nasi tersebut hingga dia merasa kenyang, namun disaat si B menanti pemberian butir-butir nasi dari si A, sepiring nasi tersebut keburu habis dimakan si A karena memang nasi tersebut hanya cukup untuk memenuhi satu perut saja, wajar memang, itulah salah satu bentuk kotornya hati manusia, di Persaudaraan Setia Hati Terate sifat-sifat seperti itulah yang berusaha diminimalisir bahkan dihilangkan, berat memang, menghilangkan sifat dasar yang melekat sejak lahir, namun lewat persaudaraan, orang PSHT dididik agar mengenal setiap jeritan saudaranya yang lain, jika ada perut orang PSHT yang lapar maka saudara yang lain ikut membantu dan merasakan lapar tersebut, jika ada airmata yang tercurahkan dari kelopak orang PSHT maka saudara yang lain akan mengusapnya dengan uluran bantuan dan solidaritas, itulah salah satu ciri dan keutamaan orang Setia Hati Terate, sehingga jika ada orang PSHT yang tidur dengan kenyang sedangkan saudaranya yang lain merintih karena lapar, maka sesungguhnya dia tidak pantas lagi disebut sebagai orang Setia Hati Terate, karena dia telah menodai nilai-nilai persaudaraan antar sesama anggota PSHT.

Tidak hanya sifat egois belaka, manusia tercipta membawa sifat dasar yang mencintai kebenaran, sesungguhnya penjahat sekalipun dihatinya ada keinginan untuk menjadi manusia yang baik dan mencintai ketentraman jiwa, seorang pemuda begundal pun tetap saja menginginkan pasangan atau istri yang baik yang sholehah untuk dirinya dan anak-anaknya kelak, tidak mungkin seorang yang badung ingin menikah dengan wanita jalang, dan tidak mungkin pula seorang pencuri bangga dengan uang hasil curiannya, tentu ada tentangan batin yang kuat dalam setiap perbuatan yang tidak benar, tidak mungkin hati yang sebenarnya suci dengan mudahnya mau diajak untuk melakukan perbuatan dosa dan tercela, karena sesungguhnya manusia terlahir dalam keadaan suci, baik hati dan fikiran merupakan fitrah yang tidak pantas kita nodai dengan perbuatan-perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Selama hati masih mempunyai suara-suara kebaikan, hal itu ditandai dengan memberontaknya hati ketika manusia akan melakukan perbuatan terlarang, maka disaat itulah dengarkan baik-baik bisikan hati nurani tersebut, lakukan apa yang hati katakan, karena jika hati telah banyak noda hitam akibat bisikan-bisikan setan, maka lama-kelamaan hati nurani akan mati dan membatu laksana lonceng yang yang kehilangan dering peringatannya, sekuat-kuat manusia jika hatinya telah menjadi sarang bisikan setan, maka segala perbuatan yang dilakukan tidak akan jauh dari perbuatan mungkar dan dzolim, bertindak menggunakan emosi dan otot yang ujung-ujungnya akan melahirkan kekacauan yang sangat menyesatkan, itukah diri orang PSHT, tentu kita semua tidak mau hal-hal tersebut menimpa kita, maka atas dasar suara hati yang terdalam, bertindaklah sesuai dengan suara hati nurani, latih hati kita agar senantiasa mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu, cintailah ilmu tentang memaafkan kesalahan dan kedzoliman orang lain, memang berat, namun mempelajari ilmu tentang kesabaran dan keikhlasan jauh lebih mulia daripada membaca ribuan buku-buku pengetahuan, mari bersama-sama menyayangi sesama umat manusia, hidup dengan toleransi dan akidah, mati dengan senyum dan genggaman kain mori, salam persaudaraan_1922